RSS

Imlek dan Pesta Cap Go Meh

04 Mar

Tahun Baru Imlek atau biasa disebut Sin Cia merupakan Pesta Awal Musim Semi yang mengandung semua unsur pergantian tahun. Di  pesta Tahun Baru ini orang merayakan  kembalinya kehidupan alam semesta, yang sebelumnya dalam keadaan mati selama musim dingin yang gelap dan suram, orang seolah-olah mendapat jiwa yang baru dan merasa gembira. Kegembiraan itu yang menjadi asal-usul dirayakannya Tahun Baru oleh bangsa Cina.

Dari tradisi turun temurun itulah, akhirnya menjadi keyakinan tersendiri bagi masyarakat China maupun keturunannya di penjuru dunia.

Sehingga, jika Imlek telah tiba, suasana begitu meriah. Keluarga berkumpul sambil makan bersama, ada tarian barongsai, dan ritual lainnya.

Hari ke 15  menandakan malam dengan bulan purnama yang pertama kalinya setelah Sin Cia, makanya disebut juga sebagai yuan xiao jie (malam pertama bulan purnama) atau Cap Go Meh (dialek Hokkian). Makan malam reuni diadakan lagi. Tang yuen (semacam onde dengan isi), simbolisme dari bulan purnama dan kebersamaan dikonsumsi.

Jika Tahun Baru Imlek sebagian besar merupakan pesta keluarga, yang upacaranya dilakukan di masing-masing rumah, maka Capgomeh merupakan pesta masyarakat yang upacaranya dilakukan di luar bangunan gedung rumah dan di jalan-jalan, berpusat pada kelenteng (tempat ibadat agama, kepercayaan dan tradisi Tionghoa).

Selama Cap Go Meh, lampion menjadi hiasan utama. Orang-orang membawa lampion dan berdoa di rumah ibadah.

Perayaan ini diasosiasikan sebagai membimbing roh -roh jahat dan tersesat agar dapat “kembali” ke sang Pencipta.

Juga sebagai sarana untuk menciptakan hubungan yang baik antara individu, keluarga, alam semesta dan sang Pencipta agar cahaya / terang (baca: kebaikan) selalu menyertai kita selama setahun..

Pesta Capgomeh memang terdiri dari banyak bagian yang mempunyai kaitan erat dengan agama, teristimewa yang cukup penting dan sentral, yaitu bagian prosesi yang intinya terdiri:

  • tandu (Joli)
  • Liong
  • Barongsay
  • samsi
  • api unggun

Prosesi menurunkan ToaPek Kong

 

 

 

Pemuka Agama/Pandhita mendaraskan doa-doa,

 

 

 

 

kemudan Toa Pek Kong diturunkan

 

 

 

 

 

Suasana di Vihara Dewi welas Asih Cirebon,ketika Toa Pek Kong diturunkan banyak orang berusaha menyentuhnya, karena dipercaya dapat memberi rejeki dan berkahnya,toapekkong siap diarak keliling kota

 

Tandu atau joli digotong, dikirab dan dibawa keliling untuk pesiar di dalam kota, melambangkan perluasan lingkungan  dan radius Jagad Baru.Upacara kirab gotong Toapekkong adalah arak-arakan ritual yang bertujuan untuk menganulir atau meruwat alam lingkungan setempat untuk menolak bala, wabah, kesedihan dan lain-lainnya untuk diganti dengan kegembiraan, pembaharuan, kesuburan, ketertiban dan sebagainya.

LIONG


Liong  adalah binatang fabel, dan merupakan benih-benih yang diangkut dan diturunkan untuk turut memberi kesuburan pada Jagad Baru.

Naga bernafaskan api merah dan air putih, dua unsur kehidupan yang saling bertentangan tetapi saling memerlukan.

Naga dikatakan bangkit dari air putih dan timbul, bangkit mengejar mentari merah, melambangkan chaos menjadi kosmos, melambangkan  “kehendak Tuhan dalam mengatur masyarakat dan keluarga”.

BARONGSAY


Barongsay, menurut kepercayaan orang China, adalah sosok singa yang dijadikan sebagai lambang yang memiliki kekuatan mistis agar manusia memperoleh akses untuk berhubungan dengan dunia gaib.


Singa, dianggapnya sebagai simbolisme hewan China yang akhirnya menjadi daya magis untuk melakukan pemujaan dan upacara yang terdapat dalam kebudayaan religi.

Ada hal yang misterius yang dapat mempengaruhi orang. Karena, mempunyai kemampuan untuk mengundang roh dan memerintah roh tersebut atas kekuatan itulah, akhirnya menjadi perantara bagi dunia roh.

Sejak  Dinasti Hsia, penggambaran itu dipercaya mempunyai makna. Berdasarkan kepercayaan Buddhisme dan Taoisme bahwa singa digambarkan sebagai pembela keyakinan dan hukum Budha. Tak aneh, sosok singa selalu terlihat sebagai pengawal yang terletak di bagian depan kuil-kuil Budha.

Kini pada hari Imlek ini, yang paling populer dipertunjukkan adalah simbol singa yang berakrobatik atau barongsay.

Tradisi ini selalu mendatangi rumah-rumah atau kantor-kantor sebagai perlambang rezeki dan dipercaya mendatangkan berkah serta dapat mengusir pergi roh-roh jahat.

Akrobatik ini, diiringi pukulan tambur dan gembreng serta mercon sebagai senjata pengusir roh.

Barongsay, dimainkan oleh kelompok pesilat china yang menggunakan kekuatan batin chi untuk menggerakkan simbol roh itu, demikian juga Singa itu bagian penyembahan nenek moyang dan merupakan personifikasi dewa-dewa.

Ada tiga jenis singa; Kwan Kung yang bermuka merah dan berjanggut hitam, Liu Pai yang berwarna kuning dan Chang Fei yang bermuka dan berjenggot hitam.

Dengan perkembangan jaman, sekarang warna barongsay bisa bermacam-macam

Barongsay dan Imlek, dipercaya juga punya legenda sendiri. Sebelum dilangsungkannya Imlek, dewa Toapekong Dapur (Ciau Kun Kong) menghadap Kaisar Langit untuk melaporkan keadaan keturunannya. 15 hari kemudian, Dewa Dapur itu turun kemudian. Agar tidak diganggu oleh roh jahat, akhirnya disambut dengan tarian Barongsay sambil membunyikan mercon dan suara tabuhan dengan keras.

SAMSI

adalah semacam singa yang harus dimainkan dengan tiga kaki, kaki keempat selalu tidak boleh menyentuh tanah. Seperti Barongsay, Samsi juga dimainkan oleh dua orang. Di atas batok kepalanya selalu dilukiskan huruf ONG (WANG) yang berarti “Raja”. Terdiri dari 3 (tiga) garis horisontal, atas-tengah-bawah, dan garis keempat vertikal sebagai penghubung. Tiga garis horisontal melambangkan Langit, Bumi dan Manusia, atau sorga dunia masyarakat, garis keempat melambangkan “Satu Hukum Tuhan”.

API UNGGUN

yang juga merupakan salah satu atraksi khas agamis ini diselenggarakan di depan klenteng. Api dibuat dari kayu atau arang. Di atas api itu lalu orang-orang yang intrance boleh berjalan, tetapi orang yang berjalan di atas api itu tidak selalu intrance (biasa disebut tangsin/tatung).

Jika air yang beberapa hari sebelum Tahun Baru dipakai untuk menyucikan dan menyuburkan, api juga dipakai untuk memurnikan dan menumbuhkan. Api membakar semua sisa kekotoran dosa, nista, kesalahan dan sebagainya yang tidak dapat dicuci oleh air.

Pesta Topeng

Perayaan itu ditutup dengan membanjirnya rakyat dari semua golongan, baik yang berjalan-jalan saja untuk menonton Lampu (lampion/tengloleng/tanglung), maupun untuk mengikuti karnaval atau prosesi, atau pun berkaul atau memohon enteng jodoh dengan melintasi tujuh jembatan atau ngibing di jalan-jalan sambil menyaru dengan topeng (balmasque).

Di jalan-jalan, tua, muda berbaur merayakannya dengan berombongan. Biasanya tiap rombongan mengurung diri dalam lingkungan tali agar supaya tidak ada ”anggotanya” yang kesasar dan hilang dalam lautan manusia di pesta Cap Go Meh itu.

Dalam pesta ini biasanya orang-orang menyamar dengan menggunakan pakaian yang aneh-aneh atau memakai topeng. Pria memakai pakaian wanita, wanita berdandan seperti pria. Orang menyamar dalam pesta Capgomeh ini katanya untuk “membuang sial”. Dan ada yang berpendapat, apabila orang sudah mulai berbuat demikian, maka orang itu harus melakukannya berturut-turut hingga sampai 7 kali, jadi harus menyamar pula selama 6 kali perayaan Capgomeh berikutnya.

Yang wanita berjalan-jalan dengan membawa beberapa batang dupa (hio) dan mencari 7 buah jembatan. Pada tiap jembatan mereka mengibas-kibaskan pakaiannya agar semua kesialan yang ada dalam dirinya hilang/dibuang dan membakar batang dupa. Hal ini dianggap mendatangkan kebaikan

Namun yang paling dipercaya lagi, biasanya selama dua pekan akan terus turun hujan. Jika hujan turun bertepatan dengan perayaan Imlek, maka dipercaya akan mendatangkan berkah. Semakin lebat hujan, maka semakin banyak rezekinya. Jika ternyata panas, maka dipercaya rezekinya akan sulit

Demikianlah perayaan Sin Cia mengawali tahun baru di hari pertama dan berakhir pada bulan purnama di hari ke lima belas  bulan pertama adalah tradisi dan perayaan yang kaya dan sarat dengan makna  dengan berbagai simbol yang memiliki arti yang positif. Bukan sekedar hura-hura dan urusan memberikan ang pau saja.

Maka kata-kata yang sering diucapka seiring dengan doa dan harapan adalah:

  • “Xin Nian Kuai Le, Wan She Ru Yi” berarti “Selamat Tahun Baru, Semoga Semua Urusan Lancar.”
  • “Gong Xi Fa Cai berarti “Selamat Tahun Baru, Semoga Sejahtera”

Notes :

Narasi diambil dari banyak sumber di internet

Foto diambil di:

  • Bandung,pada acara Kirab Budaya  2011,
  • Pagelaran Barong say di Borma Cinunuk dan Borma Riung Bandung,
  • Vihara Dewi Welas Asih (Tiao Kak Sie, Cirebon)



 
2 Comments

Posted by on March 4, 2011 in culture

 

Tags: , ,

2 responses to “Imlek dan Pesta Cap Go Meh

  1. Michael

    March 9, 2011 at 8:27 AM

    nice article with nice pics😀

     
  2. ifang

    March 9, 2011 at 9:01 AM

    thank you, Mike

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: