RSS

TORAJA

14 Aug

Toraja berada di daerah pegunungan di bagian utara Sulawesi Selatan, berjarak 330 Km dari Kota Makassar. Suku Toraja terkenal dengan kubur batu pada tebing padas, ritual pemakaman, rumah adat tongkonan dan ukiran kayunya.

RUMAH ADAT TONGKONAN

Tongkonan adalah rumah tradisional Toraja yang berdiri di atas tumpukan kayu dan dihiasi dengan ukiran berwarna merah, hitam, dan kuning. Kata “tongkonan” berasal dari bahasa Toraja tongkon (“duduk”).

Tongkonan merupakan pusat kehidupan sosial suku Toraja. Ritual yang berhubungan dengan tongkonan sangatlah penting dalam kehidupan spiritual suku Toraja oleh karena itu semua anggota keluarga diharuskan ikut serta karena Tongkonan melambangan hubungan mereka dengan leluhur mereka.

Menurut cerita rakyat Toraja, tongkonan pertama dibangun di surga dengan empat tiang. Ketika leluhur suku Toraja turun ke bumi, dia meniru rumah tersebut dan menggelar upacara yang besar.

Pembangunan tongkonan adalah pekerjaan yang melelahkan dan biasanya dilakukan dengan bantuan keluarga besar. Ada tiga jenis tongkonan.

* Tongkonan layuk adalah tempat kekuasaan tertinggi, yang digunakan sebagai pusat “pemerintahan”.

* Tongkonan pekamberan adalah milik anggota keluarga yang memiliki wewenang tertentu dalam adat  dan tradisi lokal

* Tongkonan Batu di mana  anggota keluarga biasa tinggal.

Eksklusifitas kaum bangsawan atas tongkonan semakin berkurang seiring banyaknya rakyat biasa yang mencari pekerjaan yang menguntungkan di daerah lain di Indonesia. Setelah memperoleh cukup uang, orang biasa pun mampu membangun tongkonan yang besar.

Tongkonan cantik dan  tinggi menjulang  dengan tiang yang dihiasi tanduk kerbau. Konon tanduk kerbau ini berasal dari kerbau-kerbau yang dipotong dalam persembahan di acara Rambu Solok atau upacara dan perayaan lainnya. Tanduk tersebut konon menjadi tolak ukur status dan kehormatan sebuah keluarga. Semakin banyak tanduk-tanduk, semakin tinggi derajat anggota keluarga tersebut

Berhadapan, telah berjejer bangunan yang hampir mirip dengan tongkonan dengan ukuran lebih mungil. Rupanya itu adalah lumbung, tongkonan khusus untuk menyimpan hasil panen baik padi ataupun palawija.

RAMBU SOLO

Rambu Solo adalah sebuah upacara pemakaman secara adat yang mewajibkan keluarga yang almarhum membuat sebuah pesta sebagai tanda penghormatan terakhir pada mendiang yg telah pergi Rambu Solo merupakan upacara tertinggi di toraja dan merupakan acara ritual yang paling penting. Semakin kaya dan berkuasa seseorang, maka biaya upacara pemakamannya akan semakin mahal. Pesta pemakaman seorang bangsawan biasanya dihadiri oleh ribuan orang dan berlangsung selama beberapa hari. Sebuah tempat prosesi pemakaman yang disebut rante biasanya disiapkan pada sebuah padang rumput yang luas, selain sebagai tempat pelayat yang hadir, juga sebagai tempat lumbung padi, dan berbagai perangkat pemakaman lainnya yang dibuat oleh keluarga yang ditinggalkan.

photograph by Sharen Adeline

Musik suling, nyanyian, lagu dan puisi, tangisan dan ratapan merupakan ekspresi duka cita yang dilakukan oleh suku Toraja . Upacara pemakaman ini kadang-kadang baru digelar setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sejak kematian yang bersangkutan, dengan tujuan agar keluarga mampu menyelenggarakan upacara yang cukup pantas.

Suku Toraja percaya bahwa kematian bukanlah sesuatu yang datang dengan tiba-tiba tetapi merupakan sebuah proses yang bertahap menuju Puya (dunia arwah atau akhirat). Dalam masa penungguan itu, orang yang sudah meninggal , dibungkus dengan beberapa helai kain dan disimpan di bawah tongkonan. Arwah orang mati dipercaya tetap tinggal di desa sampai upacara pemakaman selesai, setelah itu arwah akan melakukan perjalanan ke Puya.

Bagian lain dari pemakaman adalah penyembelihan kerbau , Semakin berkuasa seseorang maka semakin banyak kerbau yang disembelih. Bangkai kerbau, termasuk kepalanya, dijajarkan di padang, menunggu pemiliknya, yang sedang dalam “masa tertidur”. Suku Toraja percaya bahwa arwah membutuhkan kerbau untuk melakukan perjalanannya dan akan lebih cepat sampai di Puya jika ada banyak kerbau. Penyembelihan kerbau dan babi merupakan puncak upacara pemakaman yang diringi musik dan tarian para pemuda yang menangkap darah yang muncrat dengan bambu panjang. Sebagian daging tersebut diberikan kepada para tamu dan dicatat karena hal itu akan dianggap sebagai utang pada keluarga almarhum.

kadang-kadang dikurbankan seekor Tedong bule, yang harganya lebih mahal daripada sebuah  fortuner

Tedong Bule

photograph by Sharen Adeline

Sejak pagi kaum kerabat naik truk dan  memakai pakaian bagus, mereka  membawa babi datang ke tempat perayaan. lalu mereka mendaftarkan bawaannya dan mendapat nomor rumah yang ditempati, dengan dipisahkan antara tamu pria dan wanita.

photograph by Sharen Adeline

Tarian Penyambutan tamu

Suku Toraja melakukan tarian dalam beberapa acara, kebanyakan dalam upacara penguburan. Mereka menari untuk menunjukkan rasa duka cita, dan untuk menghormati sekaligus menyemangati arwah almarhum karena sang arwah akan menjalani perjalanan panjang menuju akhirat.

Pertama-tama, sekelompok pria membentuk lingkaran dan menyanyikan lagu sepanjang malam untuk menghormati almarhum (ritual tersebut disebut Ma’badong ) Ritual tersebut dianggap sebagai komponen terpenting dalam upacara pemakaman.

photograph by Sharen Adeline

Photograph by Sharen Adeline

photograph by Sharen Adeline

Iring-iringan kerabat  di ikuti oleh pembawa hidangan berupa rokok dan pembawa sirih, kopi, teh dan kue-kue semua tertib beriringan menuju ke rumah utama, di mana di dalamnya ada tau-tau yang mirip sekali dengan orang meninggal yang dipestakan. Sementara itu, petugas pemotong kerbau terus memotong kerbau dan babi, dan kadang-kadang  rusa.

photograph by Sharen Adeline

Pada acara ini keluarga besar almarhum/almarhumah dapat saling mengenal dan bertegur sapa, suatu tradisi yang luar biasa untuk menyatukan keluarga besar. Sisi lain adalah ada dorongan secara tidak langsung agar anak-anak yang merantau bisa lebih giat untuk berhasil dan mendapat kekayaan yang banyak untuk membanggakan orang tua di tanah kelahiran,dengan menyelenggarakan acara Rambusolo secara besar-besaran,  ini adalah tradisi yang luar biasa dalam hal meningkatkan motivasi untuk berhasil di tanah rantau dan mempersembahkan hasilnya di tanah kelahiran.

Hal lain adalah keyakinan orang-orang  tentang  bagaimana leluhurnya bisa mencapai kesempurnaan, contohnya dengan banyak kerbau dan babi yang dikorbankan, banyaknya kerbau menentukan cepat tidaknya arwah sampai ke surga, karena kerbau digunakan sebagai tunggangan , maka kaum keturunan berusaha untuk mempersembahkan sebanyak mungkin kerbau. Juga bagaimana orang berusaha untuk di kuburkan di puncak tebing yang  tinggi agar mudah mencapai kesempurnaan. Adanya kepercayaan tentang reinkarnasi dan hidup setelah kematian adalah hal yang amat menarik dari tradisi ini.

sumber :

Toraja, Wikipedia Bahasa Indonesia.

Terimakasih untuk Sharen Adeline yang sudah menyumbang foto-foto yang indah.

About these ads
 
Leave a comment

Posted by on August 14, 2012 in culture, photo, the beauty of Indonesia, travel

 

Tags: , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 857 other followers

%d bloggers like this: