RSS

Category Archives: the beauty of Indonesia

Pameran foto ” Alam dan Budaya Indonesia” GPI

Pameran foto ” Alam dan Budaya Indonesia” GPI

Gallery Photography Indonesia (GPI) mengadakan pameran foto di Gedung Arsip Nasional, pada tanggal 21-26 Oktober 2013. Pameran  ini diikuti oleh 100 orang fotografer, dan menampilkan 217 karya-karya  terbaik yang telah melewati proses kurasi dari 3 orang kurator yaitu : Klaas Stooppels, Faisal Arif Loebis dan Norbert Auryn.

brosur pameran

Katalog Pameran Foto GPI by John Foong

Ada  perasaan bangga karena ada 4 karya saya yang turut serta  dipamerkan, yaitu Kelimutu(Tiwu Nuwa Muri Kuo Fai), Feeding time, Royal Cremation, dan Abuy traditional dance. Walaupun ini tentang fotografi Indonesia, saya membiasakan diri untuk memberi judul karya saya dalam bahasa Inggris, dengan harapan siapa tahu suatu saat bisa go Internasional.

 Tiwu Nuwa Muri Kuo Fai

Kelimutu (Tiwu Nuwa Muri Kuo Fai),  Terletak di desa Pemo, Kabupaten Ende, Flores, NTT. Danau tempat berkumpulnya jiwa orang muda mudi yang telah meninggal . Untuk mendapat foto ini saya menginap di Moni dan  berangkat pukul 3.30  pagi dan berjalan cukup jauh supaya mendapat foto saat matahari terbit. menahan rasa kantuk dan udara dingin.

 Feeding Time

Feeding Time

Melukiskan suatu jalinan batin yang erat antara seorang pria bali dan ayam jagonya, betapa pria ini amat menyayangi ayam jagonya, karena bagi seorang pria Bali, ayam adalah simbol ekspresi dan magnifikasi dari pemiliknya.

Royal cremation

Royal Cremation

Perjuangan mendapat foto ini menjadi cerita tersendiri ketika harus naik ke mobil pemadam kebakaran dengan memakai kain dan kebaya, cerita lengkap lihat di  https://iffocus.wordpress.com/2012/08/24/ngaben-ceremony/

 Abuy traditional dance

Abuy Traditional Dance

Tarian traditional suku Abuy di Pulau Alor yang saya abadaikan ketika mengadakan trip bersama GPI.

 DSC_9867r

 DSC_9871r

Inilah karya-karya  terbaik yang dapat saya persembahkan dalam pameran ini, sebagai sumbangan kecil untuk memperkenalkan budaya Indonesia, dan memberi sumbangan untuk pariwisata Indonesia.  Ada rasa bangga dan haru melihat betapa indahnya hasil jepretan kamera rekan-rekan fotografer GPI. Makin menyadarkan saya tentang betapa beragamnya budaya Indonesia dan betapa cantik alam Indonesia yang baru sebagian kecil diabadikan oleh para fotografer.

 DSC_9884r

Saya selalu mengatakan dengan bangga I am Photographer, I am Indonesian. sesuai dengan motto GPI, Proud to be Indonesian Photographer. Terima kasih untuk semua pengurus GPI terutama untuk Oom Jeffry Surianto, Veronica Saver, dan Abah Bratawiria.  Semoga semakin banyak  keindahan alam Indonesia dan kekayaan budaya dapat diabadikan melalui lensa para photographer dan dapat dinikmati oleh lebih banyak orang melalui seni fotografi.

 

Tags: , ,

Ngaben Ceremony

Ngaben Ceremony

Ngaben ceremony is one of the most famous Hindu-Bali’s traditional-religious ceremonies. Ngaben is the ritual performed in Bali  to send the deceased to the next life and is perform by their families and local communities. The body of the deceased will be placed as if sleeping, and the family will continue to treat the deceased as sleeping. No tears are shed, because the deceased is only temporarily and will reincarnate to the better life or find his final rest in Moksha , freeing from the reincarnation and death cycle (Patika Samupadha).

At  Ngaben ceremony there are two main paraphernalia (equipment ceremony), namely Bade (cremation tower) and Lembu (giant bull, cremation sarcophagus), all is made of paper and wood.  The body of  the deceased is placed inside a coffin  This coffin is placed inside a  sarcophagus.  For the royal cremation (Pelebon ceremony), there are also a Naga Banda (a mythical dragon-like creature with a long tail). The Naga Banda is reserved for only the elders of the royal family and is seldom seen in cremation ceremonies

9-tiered roof, 25 meters high Bade ( cremation tower)

Naga Banda

The climax of Ngaben is the burning of the whole structure, together with the body of the deceased. The fire is necessary to free the spirit  from the body and enable reincarnation and final rest is Moksha.

Ngaben is not immediately performed. For higher caste members it is normal to perform the ritual within 3 days. For lower caste members the deceased are buried first and later, often in a group ceremony for the whole village, cremated.

Ngaben ceremony is not just about burning the body into ash (cremation) Ngaben ceremonies is a series of processions that occur since the person passed away until after the ash of the death has been thrown away into the sea.

Ngaben ceremony is a ceremony to purify and return the element of Panca Maga Butha (five elements of the universe that form the life itself) in human body (Bhuana Alit, the micro cosmos) to the universe (Bhuana Agung, the macro-cosmos). The elements of Panca Maha Butha in the body of human are:

– Petiwi (the earth, solid matters); like the flesh, bones, and teeth.

– Apah (the water); like blood, tears, saliva, and mucus

– Teja (the light); like the aura and the light of eyes.

– bayu (the air, the wind); like breathe and energy.

-Akasa (the space); the abstract elements (the ether) in human body.

In the Hindu- Balinese religion, there is also known a fundamental concept called Tri Rna.Tri Rna means three types of debts of a human during his/her life, namely :

1. Dewa Rna : debt to creator, who created man and nature that provides all its contents to human life

2. Rsi Rna : debt to Rsi (teacher), who has spread the science for the benefit of mankind.

3. Pitra Rna : debt to parents and ancestors, who had given birth, nurture, and educate humans from the womb to adulthood.

To pay for all these three debts, the Hindu Balinese people perform various ceremonies. Ngaben ceremony is the implementation to Pitra Yadnya(ceremonies). The ceremony must be performed by the family of the death as good as possible.


Ngaben ceremony is a Hindu Bali traditional-religious ceremony which had been held since the past and still survived until now in the midst of changing times.

The Royal Cremation and Mass Cremation Ceremony, July 28, 2012

The Pelebon ceremony was  conducted by Tjokorda Putra Dharma Yudha from Puri Kemudasari, Ubud; a branch of the local royal family. While the mass Ngaben ceremony was carried out for deceased community members from 4 banjars in the Ubud Area. In this ceremony we also can see the togetherness among the Puri Ubud and the community and among community members.

The departure ceremony was from Catus Patha (Ubud main intersection). For the royal cremation, the body was carried by a 9-tiered roof, 25 meters high Bade (cremation tower) to the location of cremation at Pura Dalem Peliatan, which is about 800 meters to the east of Puri Ubud.

lembu from 4 banjars,

Mina, another form of lembu for the lower caste

Although it is a ceremony of death, but Ngaben ceremony atmosphere is always lively. Besides being a traditional-religious ceremony, Ngaben ceremony has also become one of the most famous tourist attractions in Bali.

tourist attraction

Ceremonial Conductor

the musician

the musician

Pedanda from Pura Dalem Peliatan, Ubud

The mass cremation was held after royal cremation. The remains of the bodies were carried to the location of cremation at Setra Desa Pakraman Ubud (Ubud village cemetery)

Bull from 4 Banjars

Mass Cremation

Tonina Rikin, took my photograph in the Royal ceremony wear the Bali costume.

 

Tags: , , , , , , , , , , ,

Tujuan Wisata Tana Toraja

Toraja  berada  di sebelah utara Makassar, ibukota Sulawesi Selatan, dengan jarak 350km  dan bisa ditempuh dengan mobil sekitar 7 -10 jam perjalanan, atau dengan pesawat terbang domestik yang  sampai tulisan ini dibuat, hanya beroperasi seminggu sekali dengan pesawat kecil berpenumpang delapan orang, sekitar 45 menit dari Bandara Hasanuddin Makassar.

Tana Toraja dihuni oleh Suku Toraja yang mendiami daerah pegunungan dan mempertahankan gaya hidup yang khas dan masih menunjukkan gaya hidup Austronesia yang asli dan mirip dengan budaya Nias.

Sepanjang perjalanan menuju Toraja tampak panorama alam yang cantik. salah satunya adalah Gunung Nona di Enrekang, tempat di mana kita bisa beristirahat dan minum kopi enak khas Makassar.

Pemandangan Gunung Nona

Mesjid di tengah kota Enrekang

Gunung yang berkabut

Tana Toraja terkenal dengan kekayaan budayanya, terlebih-lebih adalah tata cara pemakaman yang unik, dan biasanya dengan 3 cara  yaitu:

1. Dalam Gua batu : Peti mati  seluruh anggota keluarga disimpan di dalam gua batu, dengan patung kayu yang disebut Tau tau, yang diletakkan di gua dan menghadap keluar.  atau di makam batu berukir, atau digantung di tebing.

2.Pada makam batu berukir, biasanya untuk  orang kaya. Pembuatan makam tersebut biasanya mahal dan waktu pembuatannya sekitar beberapa bulan.

3. Digantung dengan tali di sisi tebing, biasanya untuk  bayi atau anak-anak. Tali tersebut biasanya bertahan selama setahun sebelum membusuk dan membuat petinya terjatuh.

Beberapa Wisata pemakaman yang terdapat di Tana Toraja :

Ke’te Kesu Toraja

Di Desa Ke’te Kesu, 4 km dari Rantepao, terdapat kubur batu tertua di Toraja, dengan Tongkonan, lumbung padi, bangunan megalith,  tau-tau (patung manusia) dalam bangunan batu, dan karya seni ukir khas Toraja. Sekitar 100 meter di belakang perkampungan ini terdapat situs pekuburan tebing dengan kuburan bergantung dan tau-tau dalam bangunan batu yang diberi pagar. Tau-tau ini memperlihatkan penampilan pemiliknya sehari-hari.

Di sebelahnya terdapat bukit batu yang sudah mulai dirembesi air dari atasnya. Di dindingnya terdapat beberapa lubang berbentuk bujursangkar yang ditutup dengan papan kayu yang diukir. Konon di dalamnya ada ruangan-ruangan lagi yang menjadi kuburan keluarga.

Kawasan batu pemakaman ini diselimuti pohon bambu yang menjulang. terdapat tangga yang disekitarnya banyak terdapat erong-erong lapuk dan berserakan tulang belulang manusia serta tengkorak.

photograph by Sharen Adeline

Erong-erong adalah sebutan peti mati adat Tana Toraja. Erong-erong juga punya bentuk tersendiri yang menggambarkan jenis kelamin si penghuni.  Jika jenazah perempuan, ujung erong-rong berbentuk kepala babi . Sedangkan jika laki-laki  bentuknya  perahu. Semua erong-erong dihadapkan ke arah utara.

Bentuk perahu pada peti jenazah pun mengartikan tanda penghormatan kepada leluhur Toraja yang konon dipercaya datang dengan perahu dari arah utara.

Di sudut dinding batu tersebut terdapat tau-tau satu rumpun keluarga. Tau-tau adalah sebutan untuk patung-patung para jenazah yang dimuliakan. Biasanya hanya keluarga bangsawan yang memiliki kesanggupan atas pembuatan tau-tau.

Di bagian luar dinding batu, ada tangga menuju ke atas yang terdapat gua dengan pintu yang cukup besar, terlihat beberapa karangan bunga dan di dalam gua terdapat peti mati bersusun dihiasi dengan foto orang yang meninggal.

Makam Sarungalo 

Merupakan makam seorang bangsawan yang disegani di Toraja, dikubur bersama istrinya dalam sebuah makam modern yang disebut patane.

Kubur Bayi Kambira

Berupa sebuah pohon terletak  di Kampung Kambira, Kecamatan Sangalla, 20 km dari Rantepao, disebut Passiliran, berada di atas pohon Tarra dengan lubang berbentuk kotak-kotak persegi dimana jasad bayi yang belum tumbuh gigi diletakkan.

Pohon ini dipercaya mempunyai getah semacam cairan susu ibu, sehingga bayi yang dikuburkan masih seperti mendapat makanan yang mirip dengan apa yang didapat di rahim ibunya.

Di atas pohon tarra yang buahnya mirip buah sukun yang biasa dijadikan sayur oleh penduduk setempat itu dengan lingkaran batang pohon sekitar 3,5 meter, tersimpan puluhan jenazah bayi.
Sebelum jenazah dimasukkan ke batang pohon, terlebih dahulu pohon itu dilubangi kemudian mayat bayi diletakkan ke dalam kemudian ditutupi dengan serat pohon kelapa berwarna hitam. Setelah puluhan tahun, jenazah bayi itu akan menyatu dengan pohon tersebut. Ini suatu daya tarik bagi para pelancong dan untuk masyarakat Tanah Toraja tetap menganggap tempat tersebut suci seperti anak yang baru lahir.
Penempatan jenazah bayi di pohon ini juga disesuaikan dengan strata sosial masyarakat. Makin tinggi derajat sosial keluarga itu maka makin tinggi pula tempat bayi yang dikuburkan di batang pohon Tarra tersebut. Bahkan, bayi yang meninggal dunia diletakkan sesuai arah tempat tinggal keluarga yangberduka. Kalau rumahnya ada di bagian barat pohon, maka jenazah anak akan diletakkan di sebelah barat.
Meski mengubur bayi di atas pohon tarra itu sudah tidak dilaksanakan lagi sejak puluhan tahun terakhir, tetapi pohon tempat “mengubur” mayat bayi itu masih tetap tegak dan banyak dikunjungi wisatawan.

 

Kubur Batu LONDA

photograph by Sharen Adeline

Terletak di  Desa Sandan Uai, Kec Sanggalangi, 5 km ke arah selatan dari Rantepao, merupakan gua alam tempat kubur para leluhur masyarakat Toraja, berkedalaman 1 km, dengan ratusan tengkorak dan tulang berusia ratusan tahun, serta peti-peti mati ,  Di beberapa tempat naik turun cukup terjal, kadang2 untuk melewatinya harus membungkuk. Di dalam gua terdapat banyak tengkorak yang sebagian sudah berumur ratusan tahun, dan menurut penjaganya, orang dilarang untuk memindahkan atau mengambil tulang belulang tersebut.

Di beberapa sisi gua juga ditemukan deretan patung-patung kecil (tau-tau). Tau-tau ini sekaligus menandakan mereka-mereka yang telah dimakamkan dengan upacara adat tertinggi di wilayah tersebut. Tidak semua yang dimakamkan dibuatkan tau-tau. Hanya yang memenuhi syarat dan kriteria tertentu sajalah yang dibuatkan tau-tau yang bentuk rupanya persis seperti si almarhum/almarhumah.  Seringkali, di Tau-tau itu juga disertakan harta benda kesayangan dari jenasah yang dimakamkan di Londa.

Di pintu masuk ada juga beberapa erong yaitu peti mati khas Toraja yang tertanam di dinding goa, yang di dalamnya  masih tersimpan tulang dari jenasah yang konon telah meninggal ratusan tahun lalu. Di dinding goa yang tersusun dari batu kapur itu terdapat beberapa buah erong. Tinggi dari setiap erong yang tertanam di dinding Goa Londa tidaklah sama. Semakin tinggi derajat atau status sosial dari sang mendiang, semakin tinggi pula posisi peletakan peti matinya. Pada saat perayaan para sanak keluarga datang untuk berdoa dan membawa sesaji yang diyakini kesukaan mendiang, seperti rokok, air putih, sirih, pinang,  dan makanan, namun akibatnya dalam gua menjadi kotor dan berserakan rokok dan botol minuman.


 

 

 

Kubur Batu LEMO


Terletak di  kecamatan Makale Utara, di mana jasad leluhur diletakkan di dalam liang-liang pada dinding tebing cadas yang ditatah, terdapat tau-tau yang menghadap ke alam terbuka, pakaiannya diganti secara berkala dalam upacara Ma’nene.

Lemo adalah tempat pekuburan dinding berbatu. Letaknya di Desa Lemo. Disebut Lemo, karena pekuburan batu utama memiliki dinding yang berkerut-kerut seperti kulit jeruk atau lemo dalam bahasa setempat. Diperkirakan ada sekitar 75 buah lubang batu kuno di tempat ini. Di dalam lubang-lubang batu tersebut juga ditemui patung-patung(tau-tau)  dari mereka yang sudah meninggal dan dimakamkan di sini .

Situs Purbakala Bori

Terletak di kecamatan Sesean, dan di sebut Situs Purbakala, Bori adalah sebuah obyek wisata kuno dan unik, karena adanya tradisi yang melekat erat sejak ratusan tahun . Yang menjadi keunikan menhir di Bori, bukan hanya terletak pada jumlah kerbau yang dipersembahkan pada saat upacara penguburan, tetapi dalam bentuk pembuatan menhir.

Obyek wisata utamanya  adalah rante (tempat upacara pemakaman secara adat yang dilengkapi dengan buah menhir / megalit), dalam bahasa Toraja disebut simbuang batu. Seratus dua batu menhir yang berdiri dengan megah terdiri dari 24 buah ukuran besar, 24 buah ukuran sedang dan 54 buah ukuran kecil. Nilai adat tidak tergantung ukuran menhir, penyebab perbedaan adalah situasi dan kondisi pada saat pembuatan / pengambilan batu, misalnya; masalah waktu, kemampuan biaya dan situasi pada masa kemasyarakatan. Megalit / simbuang batu hanya diadakan bila seorang pemuka masyarakat yang meninggal dunia dan upacaranya dilaksanakan dalam tingkat Rapasan Sapurandanan (kerbau yang dipotong sekurang-kurangnya 24 ekor).

Batutumonga

Batutumonga berada di wilayah perbukitan ke arah barat laut dari kota Rantepao. Daerah ini merupakan kawasan pertanian yang sangat subur, batu-batu gunung yang besar bertebaran dimana-mana, dari mulai tengah sawah, pinggir hutan hingga pinggir jalan. Di tengan  perjalanan menuju Batutumonga, tampak kubur batu ditengah sawah. Salah satu tempat peristirahatan adalah restauran Mentirotiku dengan menu khas sate kerbau.

Batutumonga, photograph by Sharen Adeline

Pallawa

Tongkonan Pallawa, terletak sekitar 12 km ke arah utara dari Rantepao,  adalah salah satu tongkonan atau rumah adat yang sangat menarik dan berada di antara pohon-pohon bambu di puncak bukit. Tongkonan tersebut didekorasi dengan sejumlah tanduk kerbau yang ditancapkan di bagian depan rumah adat, yang menandakan status sosial pemilik rumah.

Semakin banyak jumlah tanduknya, semakin terpandang keluarga tersebut, karena yang dipajang adalah tanduk kerbau yang telah dikorbankan oleh keluarga tersebut.

Tongkonan Pallawa

Ibu Penjual souvenir dalam rumah Tongkonan

Desa SA’DAN

Sentra tenun kain khas toraja secara tradisional. Sentra tenun ini terletak di pinggir sungai Sa’dan, terdapat beberapa kios yang menjual kain hasil tenunan di tempat ini.

Tongkonan desa Sa’dan

Pembuat Kain Tenun

Souvenir Khas Toraja

Souvenir khas toraja biasanya berupa patung, atau ukiran yang terbuat dari kayu atau gading.

alat musik tradisional

Alat musik tradisional

Tau-tau

Sharen Adeline at souvenir shop

sumber: Wikipedia bahasa Indonesia
thanks to Sharen Adeline untuk sumbangan foto-fotonya yang cantik dan perjalanan yang menyenangkan.
 
 
 
 

Tags: , , , , , , , , , , , ,

TORAJA

Toraja berada di daerah pegunungan di bagian utara Sulawesi Selatan, berjarak 330 Km dari Kota Makassar. Suku Toraja terkenal dengan kubur batu pada tebing padas, ritual pemakaman, rumah adat tongkonan dan ukiran kayunya.

RUMAH ADAT TONGKONAN

Tongkonan adalah rumah tradisional Toraja yang berdiri di atas tumpukan kayu dan dihiasi dengan ukiran berwarna merah, hitam, dan kuning. Kata “tongkonan” berasal dari bahasa Toraja tongkon (“duduk”).

Tongkonan merupakan pusat kehidupan sosial suku Toraja. Ritual yang berhubungan dengan tongkonan sangatlah penting dalam kehidupan spiritual suku Toraja oleh karena itu semua anggota keluarga diharuskan ikut serta karena Tongkonan melambangan hubungan mereka dengan leluhur mereka.

Menurut cerita rakyat Toraja, tongkonan pertama dibangun di surga dengan empat tiang. Ketika leluhur suku Toraja turun ke bumi, dia meniru rumah tersebut dan menggelar upacara yang besar.

Pembangunan tongkonan adalah pekerjaan yang melelahkan dan biasanya dilakukan dengan bantuan keluarga besar. Ada tiga jenis tongkonan.

* Tongkonan layuk adalah tempat kekuasaan tertinggi, yang digunakan sebagai pusat “pemerintahan”.

* Tongkonan pekamberan adalah milik anggota keluarga yang memiliki wewenang tertentu dalam adat  dan tradisi lokal

* Tongkonan Batu di mana  anggota keluarga biasa tinggal.

Eksklusifitas kaum bangsawan atas tongkonan semakin berkurang seiring banyaknya rakyat biasa yang mencari pekerjaan yang menguntungkan di daerah lain di Indonesia. Setelah memperoleh cukup uang, orang biasa pun mampu membangun tongkonan yang besar.

Tongkonan cantik dan  tinggi menjulang  dengan tiang yang dihiasi tanduk kerbau. Konon tanduk kerbau ini berasal dari kerbau-kerbau yang dipotong dalam persembahan di acara Rambu Solok atau upacara dan perayaan lainnya. Tanduk tersebut konon menjadi tolak ukur status dan kehormatan sebuah keluarga. Semakin banyak tanduk-tanduk, semakin tinggi derajat anggota keluarga tersebut

Berhadapan, telah berjejer bangunan yang hampir mirip dengan tongkonan dengan ukuran lebih mungil. Rupanya itu adalah lumbung, tongkonan khusus untuk menyimpan hasil panen baik padi ataupun palawija.

RAMBU SOLO

Rambu Solo adalah sebuah upacara pemakaman secara adat yang mewajibkan keluarga yang almarhum membuat sebuah pesta sebagai tanda penghormatan terakhir pada mendiang yg telah pergi Rambu Solo merupakan upacara tertinggi di toraja dan merupakan acara ritual yang paling penting. Semakin kaya dan berkuasa seseorang, maka biaya upacara pemakamannya akan semakin mahal. Pesta pemakaman seorang bangsawan biasanya dihadiri oleh ribuan orang dan berlangsung selama beberapa hari. Sebuah tempat prosesi pemakaman yang disebut rante biasanya disiapkan pada sebuah padang rumput yang luas, selain sebagai tempat pelayat yang hadir, juga sebagai tempat lumbung padi, dan berbagai perangkat pemakaman lainnya yang dibuat oleh keluarga yang ditinggalkan.

photograph by Sharen Adeline

Musik suling, nyanyian, lagu dan puisi, tangisan dan ratapan merupakan ekspresi duka cita yang dilakukan oleh suku Toraja . Upacara pemakaman ini kadang-kadang baru digelar setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sejak kematian yang bersangkutan, dengan tujuan agar keluarga mampu menyelenggarakan upacara yang cukup pantas.

Suku Toraja percaya bahwa kematian bukanlah sesuatu yang datang dengan tiba-tiba tetapi merupakan sebuah proses yang bertahap menuju Puya (dunia arwah atau akhirat). Dalam masa penungguan itu, orang yang sudah meninggal , dibungkus dengan beberapa helai kain dan disimpan di bawah tongkonan. Arwah orang mati dipercaya tetap tinggal di desa sampai upacara pemakaman selesai, setelah itu arwah akan melakukan perjalanan ke Puya.

Bagian lain dari pemakaman adalah penyembelihan kerbau , Semakin berkuasa seseorang maka semakin banyak kerbau yang disembelih. Bangkai kerbau, termasuk kepalanya, dijajarkan di padang, menunggu pemiliknya, yang sedang dalam “masa tertidur”. Suku Toraja percaya bahwa arwah membutuhkan kerbau untuk melakukan perjalanannya dan akan lebih cepat sampai di Puya jika ada banyak kerbau. Penyembelihan kerbau dan babi merupakan puncak upacara pemakaman yang diringi musik dan tarian para pemuda yang menangkap darah yang muncrat dengan bambu panjang. Sebagian daging tersebut diberikan kepada para tamu dan dicatat karena hal itu akan dianggap sebagai utang pada keluarga almarhum.

kadang-kadang dikurbankan seekor Tedong bule, yang harganya lebih mahal daripada sebuah  fortuner

Tedong Bule

photograph by Sharen Adeline

Sejak pagi kaum kerabat naik truk dan  memakai pakaian bagus, mereka  membawa babi datang ke tempat perayaan. lalu mereka mendaftarkan bawaannya dan mendapat nomor rumah yang ditempati, dengan dipisahkan antara tamu pria dan wanita.

photograph by Sharen Adeline

Tarian Penyambutan tamu

Suku Toraja melakukan tarian dalam beberapa acara, kebanyakan dalam upacara penguburan. Mereka menari untuk menunjukkan rasa duka cita, dan untuk menghormati sekaligus menyemangati arwah almarhum karena sang arwah akan menjalani perjalanan panjang menuju akhirat.

Pertama-tama, sekelompok pria membentuk lingkaran dan menyanyikan lagu sepanjang malam untuk menghormati almarhum (ritual tersebut disebut Ma’badong ) Ritual tersebut dianggap sebagai komponen terpenting dalam upacara pemakaman.

photograph by Sharen Adeline

Photograph by Sharen Adeline

photograph by Sharen Adeline

Iring-iringan kerabat  di ikuti oleh pembawa hidangan berupa rokok dan pembawa sirih, kopi, teh dan kue-kue semua tertib beriringan menuju ke rumah utama, di mana di dalamnya ada tau-tau yang mirip sekali dengan orang meninggal yang dipestakan. Sementara itu, petugas pemotong kerbau terus memotong kerbau dan babi, dan kadang-kadang  rusa.

photograph by Sharen Adeline

Pada acara ini keluarga besar almarhum/almarhumah dapat saling mengenal dan bertegur sapa, suatu tradisi yang luar biasa untuk menyatukan keluarga besar. Sisi lain adalah ada dorongan secara tidak langsung agar anak-anak yang merantau bisa lebih giat untuk berhasil dan mendapat kekayaan yang banyak untuk membanggakan orang tua di tanah kelahiran,dengan menyelenggarakan acara Rambusolo secara besar-besaran,  ini adalah tradisi yang luar biasa dalam hal meningkatkan motivasi untuk berhasil di tanah rantau dan mempersembahkan hasilnya di tanah kelahiran.

Hal lain adalah keyakinan orang-orang  tentang  bagaimana leluhurnya bisa mencapai kesempurnaan, contohnya dengan banyak kerbau dan babi yang dikorbankan, banyaknya kerbau menentukan cepat tidaknya arwah sampai ke surga, karena kerbau digunakan sebagai tunggangan , maka kaum keturunan berusaha untuk mempersembahkan sebanyak mungkin kerbau. Juga bagaimana orang berusaha untuk di kuburkan di puncak tebing yang  tinggi agar mudah mencapai kesempurnaan. Adanya kepercayaan tentang reinkarnasi dan hidup setelah kematian adalah hal yang amat menarik dari tradisi ini.

sumber :

Toraja, Wikipedia Bahasa Indonesia.

Terimakasih untuk Sharen Adeline yang sudah menyumbang foto-foto yang indah.

 
Leave a comment

Posted by on August 14, 2012 in culture, photo, the beauty of Indonesia, travel

 

Tags: , , , , , , , , , ,