RSS

Tag Archives: Photography

Pameran foto ” Alam dan Budaya Indonesia” GPI

Pameran foto ” Alam dan Budaya Indonesia” GPI

Gallery Photography Indonesia (GPI) mengadakan pameran foto di Gedung Arsip Nasional, pada tanggal 21-26 Oktober 2013. Pameran  ini diikuti oleh 100 orang fotografer, dan menampilkan 217 karya-karya  terbaik yang telah melewati proses kurasi dari 3 orang kurator yaitu : Klaas Stooppels, Faisal Arif Loebis dan Norbert Auryn.

brosur pameran

Katalog Pameran Foto GPI by John Foong

Ada  perasaan bangga karena ada 4 karya saya yang turut serta  dipamerkan, yaitu Kelimutu(Tiwu Nuwa Muri Kuo Fai), Feeding time, Royal Cremation, dan Abuy traditional dance. Walaupun ini tentang fotografi Indonesia, saya membiasakan diri untuk memberi judul karya saya dalam bahasa Inggris, dengan harapan siapa tahu suatu saat bisa go Internasional.

 Tiwu Nuwa Muri Kuo Fai

Kelimutu (Tiwu Nuwa Muri Kuo Fai),  Terletak di desa Pemo, Kabupaten Ende, Flores, NTT. Danau tempat berkumpulnya jiwa orang muda mudi yang telah meninggal . Untuk mendapat foto ini saya menginap di Moni dan  berangkat pukul 3.30  pagi dan berjalan cukup jauh supaya mendapat foto saat matahari terbit. menahan rasa kantuk dan udara dingin.

 Feeding Time

Feeding Time

Melukiskan suatu jalinan batin yang erat antara seorang pria bali dan ayam jagonya, betapa pria ini amat menyayangi ayam jagonya, karena bagi seorang pria Bali, ayam adalah simbol ekspresi dan magnifikasi dari pemiliknya.

Royal cremation

Royal Cremation

Perjuangan mendapat foto ini menjadi cerita tersendiri ketika harus naik ke mobil pemadam kebakaran dengan memakai kain dan kebaya, cerita lengkap lihat di  https://iffocus.wordpress.com/2012/08/24/ngaben-ceremony/

 Abuy traditional dance

Abuy Traditional Dance

Tarian traditional suku Abuy di Pulau Alor yang saya abadaikan ketika mengadakan trip bersama GPI.

 DSC_9867r

 DSC_9871r

Inilah karya-karya  terbaik yang dapat saya persembahkan dalam pameran ini, sebagai sumbangan kecil untuk memperkenalkan budaya Indonesia, dan memberi sumbangan untuk pariwisata Indonesia.  Ada rasa bangga dan haru melihat betapa indahnya hasil jepretan kamera rekan-rekan fotografer GPI. Makin menyadarkan saya tentang betapa beragamnya budaya Indonesia dan betapa cantik alam Indonesia yang baru sebagian kecil diabadikan oleh para fotografer.

 DSC_9884r

Saya selalu mengatakan dengan bangga I am Photographer, I am Indonesian. sesuai dengan motto GPI, Proud to be Indonesian Photographer. Terima kasih untuk semua pengurus GPI terutama untuk Oom Jeffry Surianto, Veronica Saver, dan Abah Bratawiria.  Semoga semakin banyak  keindahan alam Indonesia dan kekayaan budaya dapat diabadikan melalui lensa para photographer dan dapat dinikmati oleh lebih banyak orang melalui seni fotografi.

 

Tags: , ,

TORAJA

Toraja berada di daerah pegunungan di bagian utara Sulawesi Selatan, berjarak 330 Km dari Kota Makassar. Suku Toraja terkenal dengan kubur batu pada tebing padas, ritual pemakaman, rumah adat tongkonan dan ukiran kayunya.

RUMAH ADAT TONGKONAN

Tongkonan adalah rumah tradisional Toraja yang berdiri di atas tumpukan kayu dan dihiasi dengan ukiran berwarna merah, hitam, dan kuning. Kata “tongkonan” berasal dari bahasa Toraja tongkon (“duduk”).

Tongkonan merupakan pusat kehidupan sosial suku Toraja. Ritual yang berhubungan dengan tongkonan sangatlah penting dalam kehidupan spiritual suku Toraja oleh karena itu semua anggota keluarga diharuskan ikut serta karena Tongkonan melambangan hubungan mereka dengan leluhur mereka.

Menurut cerita rakyat Toraja, tongkonan pertama dibangun di surga dengan empat tiang. Ketika leluhur suku Toraja turun ke bumi, dia meniru rumah tersebut dan menggelar upacara yang besar.

Pembangunan tongkonan adalah pekerjaan yang melelahkan dan biasanya dilakukan dengan bantuan keluarga besar. Ada tiga jenis tongkonan.

* Tongkonan layuk adalah tempat kekuasaan tertinggi, yang digunakan sebagai pusat “pemerintahan”.

* Tongkonan pekamberan adalah milik anggota keluarga yang memiliki wewenang tertentu dalam adat  dan tradisi lokal

* Tongkonan Batu di mana  anggota keluarga biasa tinggal.

Eksklusifitas kaum bangsawan atas tongkonan semakin berkurang seiring banyaknya rakyat biasa yang mencari pekerjaan yang menguntungkan di daerah lain di Indonesia. Setelah memperoleh cukup uang, orang biasa pun mampu membangun tongkonan yang besar.

Tongkonan cantik dan  tinggi menjulang  dengan tiang yang dihiasi tanduk kerbau. Konon tanduk kerbau ini berasal dari kerbau-kerbau yang dipotong dalam persembahan di acara Rambu Solok atau upacara dan perayaan lainnya. Tanduk tersebut konon menjadi tolak ukur status dan kehormatan sebuah keluarga. Semakin banyak tanduk-tanduk, semakin tinggi derajat anggota keluarga tersebut

Berhadapan, telah berjejer bangunan yang hampir mirip dengan tongkonan dengan ukuran lebih mungil. Rupanya itu adalah lumbung, tongkonan khusus untuk menyimpan hasil panen baik padi ataupun palawija.

RAMBU SOLO

Rambu Solo adalah sebuah upacara pemakaman secara adat yang mewajibkan keluarga yang almarhum membuat sebuah pesta sebagai tanda penghormatan terakhir pada mendiang yg telah pergi Rambu Solo merupakan upacara tertinggi di toraja dan merupakan acara ritual yang paling penting. Semakin kaya dan berkuasa seseorang, maka biaya upacara pemakamannya akan semakin mahal. Pesta pemakaman seorang bangsawan biasanya dihadiri oleh ribuan orang dan berlangsung selama beberapa hari. Sebuah tempat prosesi pemakaman yang disebut rante biasanya disiapkan pada sebuah padang rumput yang luas, selain sebagai tempat pelayat yang hadir, juga sebagai tempat lumbung padi, dan berbagai perangkat pemakaman lainnya yang dibuat oleh keluarga yang ditinggalkan.

photograph by Sharen Adeline

Musik suling, nyanyian, lagu dan puisi, tangisan dan ratapan merupakan ekspresi duka cita yang dilakukan oleh suku Toraja . Upacara pemakaman ini kadang-kadang baru digelar setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sejak kematian yang bersangkutan, dengan tujuan agar keluarga mampu menyelenggarakan upacara yang cukup pantas.

Suku Toraja percaya bahwa kematian bukanlah sesuatu yang datang dengan tiba-tiba tetapi merupakan sebuah proses yang bertahap menuju Puya (dunia arwah atau akhirat). Dalam masa penungguan itu, orang yang sudah meninggal , dibungkus dengan beberapa helai kain dan disimpan di bawah tongkonan. Arwah orang mati dipercaya tetap tinggal di desa sampai upacara pemakaman selesai, setelah itu arwah akan melakukan perjalanan ke Puya.

Bagian lain dari pemakaman adalah penyembelihan kerbau , Semakin berkuasa seseorang maka semakin banyak kerbau yang disembelih. Bangkai kerbau, termasuk kepalanya, dijajarkan di padang, menunggu pemiliknya, yang sedang dalam “masa tertidur”. Suku Toraja percaya bahwa arwah membutuhkan kerbau untuk melakukan perjalanannya dan akan lebih cepat sampai di Puya jika ada banyak kerbau. Penyembelihan kerbau dan babi merupakan puncak upacara pemakaman yang diringi musik dan tarian para pemuda yang menangkap darah yang muncrat dengan bambu panjang. Sebagian daging tersebut diberikan kepada para tamu dan dicatat karena hal itu akan dianggap sebagai utang pada keluarga almarhum.

kadang-kadang dikurbankan seekor Tedong bule, yang harganya lebih mahal daripada sebuah  fortuner

Tedong Bule

photograph by Sharen Adeline

Sejak pagi kaum kerabat naik truk dan  memakai pakaian bagus, mereka  membawa babi datang ke tempat perayaan. lalu mereka mendaftarkan bawaannya dan mendapat nomor rumah yang ditempati, dengan dipisahkan antara tamu pria dan wanita.

photograph by Sharen Adeline

Tarian Penyambutan tamu

Suku Toraja melakukan tarian dalam beberapa acara, kebanyakan dalam upacara penguburan. Mereka menari untuk menunjukkan rasa duka cita, dan untuk menghormati sekaligus menyemangati arwah almarhum karena sang arwah akan menjalani perjalanan panjang menuju akhirat.

Pertama-tama, sekelompok pria membentuk lingkaran dan menyanyikan lagu sepanjang malam untuk menghormati almarhum (ritual tersebut disebut Ma’badong ) Ritual tersebut dianggap sebagai komponen terpenting dalam upacara pemakaman.

photograph by Sharen Adeline

Photograph by Sharen Adeline

photograph by Sharen Adeline

Iring-iringan kerabat  di ikuti oleh pembawa hidangan berupa rokok dan pembawa sirih, kopi, teh dan kue-kue semua tertib beriringan menuju ke rumah utama, di mana di dalamnya ada tau-tau yang mirip sekali dengan orang meninggal yang dipestakan. Sementara itu, petugas pemotong kerbau terus memotong kerbau dan babi, dan kadang-kadang  rusa.

photograph by Sharen Adeline

Pada acara ini keluarga besar almarhum/almarhumah dapat saling mengenal dan bertegur sapa, suatu tradisi yang luar biasa untuk menyatukan keluarga besar. Sisi lain adalah ada dorongan secara tidak langsung agar anak-anak yang merantau bisa lebih giat untuk berhasil dan mendapat kekayaan yang banyak untuk membanggakan orang tua di tanah kelahiran,dengan menyelenggarakan acara Rambusolo secara besar-besaran,  ini adalah tradisi yang luar biasa dalam hal meningkatkan motivasi untuk berhasil di tanah rantau dan mempersembahkan hasilnya di tanah kelahiran.

Hal lain adalah keyakinan orang-orang  tentang  bagaimana leluhurnya bisa mencapai kesempurnaan, contohnya dengan banyak kerbau dan babi yang dikorbankan, banyaknya kerbau menentukan cepat tidaknya arwah sampai ke surga, karena kerbau digunakan sebagai tunggangan , maka kaum keturunan berusaha untuk mempersembahkan sebanyak mungkin kerbau. Juga bagaimana orang berusaha untuk di kuburkan di puncak tebing yang  tinggi agar mudah mencapai kesempurnaan. Adanya kepercayaan tentang reinkarnasi dan hidup setelah kematian adalah hal yang amat menarik dari tradisi ini.

sumber :

Toraja, Wikipedia Bahasa Indonesia.

Terimakasih untuk Sharen Adeline yang sudah menyumbang foto-foto yang indah.

 
Leave a comment

Posted by on August 14, 2012 in culture, photo, the beauty of Indonesia, travel

 

Tags: , , , , , , , , , ,

High Park, Toronto, Spring 2011

According to the official City of Toronto website ,  over one million visitors annually come to high park. High Park is the jewel of Toronto’s park system. The park, over one-third of which remains in a natural state, is home to many species of wildlife, including birds, fish and animals. Recognized as one of the most significant natural sites within the City of Toronto, the park contains an outstanding concentration of rare plant species. The park offers many popular attractions as well as activities for visitors to enjoy.

High Park’s 399 acres in the middle of Toronto is an excellent getaway for young and old people equally. There are many designated children’s playgrounds, sports facilities, 18 picnic areas, hiking trails, large green spaces, waterfront trails, benches galore and the list goes on and on.

High Park attracts many visitors in the spring to admire the beautiful cherry blossoms, and May is the best time to see the cherry trees in full bloom: Most of the Sakura cherry trees are located around Hillside Gardens and there are a few by the Duck Pond as well.

Sakura trees also known as cherry blossom trees are known for their elegance and beauty. Unfortunately they are also known for their short blooming periods. Approximately one week after the first blossoms appear, ‘kaika’, ‘full bloom’ or ‘mankai’ is achieved.

photograph by Michael Gunawan

photograph by Michael Gunawan

photograph by Michael Gunawan

 
5 Comments

Posted by on July 16, 2011 in Canada, Flower, nature, photography, travel

 

Tags: , , , ,

Gardens of Casa Loma Part 4 of 4

Photograph by Michael Gunawan

The garden of Casa Loma, one of the most stunning parts of the building, portrays a wide variety of specialty garden areas in a unique and balanced setting; the colour pattern when many flowers blossom with shrubs and tall trees give an impressive view of the garden.

Artistic displays of annuals find strength in their colour schemes while the many flowering shrubs and trees provide an impressive array of foliage, texture and form. The ever-changing colours of this brilliant floral mosaic allow visitors to enjoy the beauty of the Casa Loma Gardens all season long.

The Gardens: Renovated by the Garden Club of Toronto, the 5 acres surrounding the castle feature formal perennial borders, sculpture and fountains. The wooded hillside showcases wild flowers and ferns plus dramatic rhododendrons and decorative grasses. Enjoy the serene beauty and changing panorama of rainbow colours May through October as the gardens mirror the transition of the Canadian seasons.

The Secret Garden: The Secret Garden gets its name from the perimeter fieldstone walls and cedar hedge that surround it. The area has a cottage garden feel due to the mixed plantings of shrubs and perennials and lush roses cascading down from the Arbour.

Photograph by Michael Gunawan

photograph by Michael Gunawan

Photograph by Michael Gunawan

Photograph by Michael Gunawan

Photograph by Michael Gunawan

Thank you so much to Michael, who guide and take me to visit this Castle.Most beautiful picture in this article is photograph by Michael Gunawan. I wrote about Casa Loma in 4 parts:

  • 1st part, Main Entrance, Main floor,
  • 2nd part, The Second Floor,
  • 3rd part, The Third Floor, Lower Level, and The Stables
  • 4th part, Garden and it’s beautiful flowers
Source:
http://www.Casa Loma.Org
Lonely Planet, Canada
 
 
Leave a comment

Posted by on July 12, 2011 in Canada, photography, travel

 

Tags: , , ,

Casa Loma – Castle in the City part 3 of 4

Casa Loma photograph by Michael Gunawan

Hall, photograph by Michael Gunawan

Third Floor

From the second floor, we could go to the third floor by three ways, first, the main stair in the center of the building, or the servants’ stair, as most of the servants’ rooms are in the upper floor, and the last, we could use the elevator, which was renovated from the original one but still takes the same place and with the same design.

Servant's stair to third floor, photograph by Michael Gunawan

Stairs to Towers:  the highest point of the castle, from where we can see a scenic and beautiful view of the city.

The Tower from outside

Some of the rooms in the third floor were never completed, and now become Queen’s own rifles museum. Sir Henry was a dedicated supporter of the Queen’s Own Rifles, achieving the rank of Major General. The regiment’s band was often engaged to entertain guests at the castle. In 1910 Sir Henry took the entire 600-man regiment to England for military games at his expense. In the rooms, there are some medals, uniforms, old photos, and even equipment that Sir Henry used to use.

photograph by Michael Gunawan

World War Room photograph by Michael Gunawan

Medals1 photograph by Michael Gunawan

Medals2, photograph by Michael Gunawan

Photograph by Michael Gunawan

Painting about War photograph by Michael Gunawan

Coronation Chair

Coronation Chair: showing stone of scone reminding us of queens scottish ancestry , This is an exact replica of coronation chain in Westminster Abbey and shows names carved by the westminster scoolboys in 18th century

The Kiwanis Room: This room tells the remarkable story of the Kiwanis Club’s restoration and operation of Casa Loma since 1937. Proceeds from the castle go to the Kiwanis’ charitable projects

Photograph by Michael Gunawan

Kiwani Room, photograph by Michael Gunawan

photograph by Michael Gunawan

Photograph by Michael Gunawan

Pellatt The Plunger

Casa Loma and its rich former owner have had a less-than-savoury reputation in the press at times; ever since its construction in 1914, Casa Loma was criticized for its size and castle-like demeanour, and Pellatt was accused of having delusions of grandeur. Judith Robinson wrote in a 1931 issue of The Globe and Mail that she felt it was a “humorous commentary on the state of civilization in this city in the early 20th Century…it should be kept intact as an awful example of local artistic immaturity. It should be stuffed and mounted like a five-legged elephant.”

Notably, while Casa Loma may be the largest house ever built in Canada, it pales in comparison to the houses constructed by wealthy American Industrialists, such as Marble House – which needed a budget of 11 million dollars to construct (Casa Loma needed “only” 3.5 million).

In the meantime, Pellatt did not fare too well either. Eventually to fall to financial ruin, Pellatt was nicknamed The Plunger early on, and it was written in a 1920s MacLeans that “he was looking for it…so there was no use shedding tears over his probable fate”. His massive art and furniture collection was also (falsely) touted as being nothing more than a collection of fakes.

After Pellatt went bankrupt, plans were made successively to make the structure a home for war veterens, a war museum, a high school, a convent, a monastery, a hq for the Orange Order , a club for wealthy men, and even a home for the Dionne Quintuplets. It became a night club for a short while and then a luxurious hotel for a shorter while, before it finally became a tourist spot.

The Garden Room: View the gardens from this 3rd floor vantage point.

Servant’s Room: Up a few steps from the landing is a typical servant’s room.

Servant's Room Photograph by Michael Gunawan

The Lower Level

Gift Shop: The three arches in this room were laneways for Sir Henry’s proposed bowling alleys. A shooting range was to have been installed on the other side of the wall but was never completed.

Sir Henry’s Cafe: Originally designed to be Sir Henry’s private exercise room, it was to be filled with the latest of the turn-of-the-century equipment.

photograph by Michael Gunawan

Swimming Pool: The pool beneath the Conservatory was also never properly finished. The original plans called for the pool to be surrounded by cloisters, marble arches and gold swans around the edge. In fact, the pool and the entire basement of Casa Loma were used mainly for storage.

unfinished Swimming Pool, photograph by Michael Gunawan

Wine Cellar: Ammonia and brine-filled pipes chilled the collection of nearly 1800 bottles of wine and champagne, Sir Henry’s drink of preference. It is interesting to note that the cellar is directly connected to Sir Henry’s study by a secret passage.

Wine Cellar

Photograph by Michael Gunawan

Tunnel to Stables: The stables are connected to the castle by an 800-ft. tunnel which runs 18′ below the ground.

The Stables: The horse stalls are constructed of mahogany while the floors are covered with Spanish tiles. The stables were made to store Sir Henry’s private horses that he used to ride them to hunt or even in war.

Photograph by Michael Gunawan


Carriage Room: Much of the carriage collection on display is on loan from the Powell family of Kettleby, Ontario.

Garage:   Near the stalls, there is garage, where electric cars stored

Photograph by Michael Gunawan
 

Potting shed: is placed where plants in the beautiful garden came from, a large room where past and present Casa Loma gardeners plant material for use throughout the gardens

Photograph by Michael Gunawan
 

Thank you so much to Michael, who guide and take me to visit this Castle.Most beautiful picture in this article is photograph by Michael Gunawan, on February 2011 and May 2011.I wrote about Casa Loma in 4 parts:

  • 1st part, Main Entrance, Main floor,
  • 2nd part, The Second Floor,
  • 3rd part, The Third Floor, Lower Level, and The Stables
  • 4th part, Garden and it’s beautiful flowers
Source:
http://www.Casa Loma.Org
Lonely Planet, Canada
 
 
Leave a comment

Posted by on July 8, 2011 in Canada, photography, travel

 

Tags: , , ,

Marilyn Monroe Tower

May,12th 2011

This Curvy residential condominium in Mississauga, Ontario, Canada Within days of the announcement, the building had been nicknamed the “Marilyn Monroe Tower” due to its curvaceous, and reference to her voluptuous figure hourglass,  figure likened to actress Marilyn Monroe  Standing at 50 and 56 storeys, these two skyscrapers will be the tallest of any built in a Canadian suburban city.

The two towers are also known as the ‘Condo Couple’.The residential towers fan out from a 30,000ft² private recreation centre. The tower turns 180° from the base to the top.

The Condo Couple will have a continuous balcony around the entire skyscraper in place of the commonly used vertical barriers. The building makes a different angle at different levels to provide a 360° view to each unit.

 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Source :
Wikipedia
Designbuild-network.com
 
 
2 Comments

Posted by on June 3, 2011 in Canada, photography, travel

 

Tags: , , ,

Sempurna

ottawaSempurna adalah terjadinya sesuatu dalam keadaan seimbang yang terjadi,ada yang keras dan lembut, gelap dan terang. Hidup itu sempurna, jika ada tawa dan tangis, ada cinta dan benci, ada duka dan tawa; Aku merasa sempurna ketika aku bisa bersyukur dalam keadaan yang tidak aku harapkan. Aku merasa hidupku sempurna ketika masih berani  bermimpi, ketika aku belajar sesuatu yang baru, mengalami kekecewaan, semua itu sempurna adanya.

Pada saat ini aku merasa hidupku sempurna karena Tuhan mengijinkan aku mengalami kesepian ketika berulang tahun berada di negara dengan bahasa yang asing dan perbedaan waktu 11 jam dengan Indonesia, tempat dengan suhunya di bawah 10 derajat dengan tiupan angin yang kencang dan aku bisa merasakan arti kata “dingin”.

Ketika aku memutuskan untuk berangkat menjelang ulang tahun, aku tidak berpikir tentang rasa kesepian ini, tetapi makin dekat tanggal keberangkatan, aku mulai bimbang karena ternyata tidak bisa memakai nomor handphone yang biasa.

Aku biasa dimanjakan dengan banyak ucapan selamat ulang tahun dari teman- temanku, merayakan dengan makan bersama, mendapat mawar kuning, atau kado,  bagiku itu adalah suatu bentuk perhatian dan tanda cinta disertai doa yang tulus untuk kehadiranku di dunia ini, sekarang aku tidak mendapatkan itu semua,dan rasanya sulit untuk dihadapi,  tetapi ini saatnya untuk bertindak dewasa, lepas dari kemelekatan dan pemuasan diri, saatnya untuk berani menghadapi kenyataan bahwa cinta tidak selalu harus ditunjukan lewat sms, bbm atau telpon, ketika aku tidak mendapatkan semua bentuk perhatian yang biasa aku nikmati, aku percaya teman-temanku tetap mencintai dan berdoa untuk kebahagiaanku.

Belajar untuk lebih dewasa, tanpa harus menuntut banyak perhatian, belajar untuk merasakan cinta dalam keheningan, dan belajar untuk bersyukur atas segala keadaan adalah hal yang lebih penting. Pada hari ulang tahun ini, adalah saat yang tepat bagiku untuk menjadi lebih bijaksana dan makin sempurna dengan semua keterbatasanku. Sempurna adalah menjadi lebih manusiawi, ada kemeriahan ada kesepian, hidup ini tidak sempurna ketika aku selau tertawa, aku tidak akan pernah tahu apa artinya bersedih. Hidup ini sempurna ketika ada sinar matahari, dan ada cahaya bulan, dan hidup itu sempurna ketika sesuatu terjadi tidak sesuai dengan harapanku, tidak berjalan seperti biasanya , itu adalah bagian dari kesempurnaan.

Graduation day

Menghadiri wisuda Michael sebagai lulusan Ontario adalah pengalaman yang membanggakan  mengantar ke tahap yang lebih tinggi dalam pendidikan anak-anak adalah impianku, menemani mereka mengejar mimpi dan harapan untuk masa depan yang lebih cerah,  dan aku mensyukuri sebagai buah dari panggilanku sebagai mama.  aku boleh turut berbangga dengan keberhasilan anakku, melangkah menuju kedewasaan dan kematangan pribadi.

Waktu berangkat aku berharap mendapat cuaca yang bersahabat dengan warna langit yang biru, karena ini adalah musim semi. tetapi ternyata sepanjang minggu ini ada hujan, banyak awan  dan angin  bertiup kencang, langit yang mendung, udara yang berkabut, dan amat dingin, tidak sesuai dengan harapanku.

Toronto

Menikmati petualangan menjelajah negara yang asing berdua dengan Michael adalah hal luar biasa, yang bisa dilakukan oleh mummy and son. Menjelajahi kota cantik dan klasik, Toronto, dengan Mike sebagai guide yang hebat, dan tutor yang asik untuk fotografi. Rasanya belum lama aku membimbing tangannya yang kecil masuk ke MRT di Singapura, sekarang giliran dia yang membimbing aku.

Casa Loma

Orang-orang yang ramah, peninggalan sejarah yang cantik, bunga tulip beraneka warna di sepanjang jalan, taman serta pemandangan yang indah yang bisa ditangkap melalui lensa kamera kami, menjadikan trip ini sebagai petualangan yang amat mengasyikan.

High Park

Menikmati High Park dengan bunga sakura yang cantik dan banyak orang tua yang berjalan-jalan bersama teman atau cucunya, dan Mike sampai saat ini masih bersikeras bahwa itu cherry blossom, aku hanya tersenyum, apapun namanya bunga itu, bagiku amat cantik. Melihat ibu-ibu muda berlari turun naik tanjakan sambil mendorong kereta bayi,  atau anak anak yang bermain dengan helai kelopak bunga, oma dan opa saling bercengkrama, di dekat danau dengan bebek berenang, bagiku seperti berada di atmosfir yang lain.

High Park

Perjalanan menuju La basilique Notre Dame de Montreal untuk menghadiri misa hari minggu ditempuh dalam hujan dan angin dengan udara 8 derajat, dan kami hanya bisa tertawa terpingkal ketika payung yang aku gunakan tak kuat menahan angin, Mike bilang “kenapa pakai buatan cina?” akhirnya kami membeli payung di toko souvenir lebih kokoh dan bagus.

Notre dame basilica montreal

Notre dame basilica - sumber : post card

Misa bahasa perancis di gereja megah yang dibangun tahun 1829 menjadi menarik ketika aku hanya bisa menangkap kata amin dan alleluya, membuat aku berpikir, Gereja Katolik ini amat luar biasa, dengan berbagai macam bahasa dan bangsa, pada saat yang sama hampir setiap saat selalu ada perayaan Ekaristi dengan berbagai bahasa, bagaimana ketika kita di surga nanti? Secara verbal pasti tidak akan mengerti, tapi tujuan nya sama yaitu memuji Allah dan mewartakan kasih Tuhan.

Masih banyak tempat yang akan kami jelajahi sebelum kembali ke Indonesia, dalam permenungan ini aku merasa, tidak ada sesuatu apapun dalam hidup aku yang lepas dari lindungan Tuhan, aku merasa Tuhan amat mencintai aku, memberi banyak malaikat di manapun aku berada, memberi banyak kemudahan di setiap kesulitan hidup, di dalam kekecewaanku, dan bagiku anugerah Tuhan seperti sungai yang terus mengalir dalam kehidupanku, melalui sahabat, anak-anak, teman dan bahkan orang-orang yang tidak ku kenal.

Filipi 4: 4-5 masih menjadi bahan refleksiku untuk sepanjang tahun ini,
” Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.
Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus”

Setiap kekuatiran itu muncul, sebetulnya itu sudah menguras energiku untuk berbuat yang terbaik. Satu hal yang  aku tanamkan dalam hatiku pada hari istimewa ini adalah berhenti kuatir dan selalu bersyukur, maka semua akan menjadi amat luar biasa.

Berjalan menuju kesempurnaan dan kedewasaan diri adalah hal yang masih harus digumuli dalam hidupku, belajar memeluk penderitaan, berhenti menolak segala sesuatu yang terjadi di luar kehendakku, sepertinya masih merupakan perjuangan dan perjalanan yang panjang. Belajar untuk tegar melangkah dan menghayati panggilanku baik, menjadi sahabat yang baik bagi orang orang yang mengenal dan menyayangi aku dan menjadi saksi kehadiran Tuhan di dunia ini,bukan hal yang mudah. semua perlu perjuangan dan usaha.

Inilah indahnya hari ulang tahun, yaitu saat di mana bisa menjadi titik balik dan awal bagiku untuk memperbaharui niat baik, hari penuh ucapan syukur dan doa, penuh harapan indah dan saat yang baik untuk berbagi berkat, berbagi sukacita dan kebahagiaan bahwa kehadiranku masih berarti bagi banyak orang.

Terimakasih untuk semua orang yang telah hadir dalam hidupku, yang mau menerima aku apa adanya dan masih mau berdoa untuk kebahagiaan dan kesehatanku, kehadiran anda semua membuat hidupku makin sempurna, semoga dengan persahabatan kita, kita akan makin dikuatkan dan makin sempurna menjadi manusia yang seutuhnya. God bless you all….

 
5 Comments

Posted by on May 18, 2011 in Canada, my spiritual, photography, travel

 

Tags: , ,